Perbankan Syariah: Definisi, Akad, dan Prospek Ke Depan

Secara sederhana, Perbankan Syariah termasuk dikenal sebagai perbankan Islam. Di mana didalam pelaksanaannya perbankan syariah mempunyai landasan hukum sesuai syariat Islam.

Salah satunya adalah Perbankan syariah tidak mengenal ada “bunga pinjaman” atau interest rate, gara-gara bunga pinjaman di nilai riba/haram dan dapat berdosa.

Sehingga didalam operasionalnya perbankan syariah menerapkan “sistem bagi hasil” atau Nisbah, di mana prosesnya sama-sama diketahui dan disetujui oleh pihak bank maupun pihak nasabah pada pas akad (perjanjian) ditandatangani.

Sistem bagi hasil yang dikerjakan bank syariah adalah bersama dengan cara profit sharing, yaitu membagi keuntungan bersih dari usaha atau investasi yang udah dijalankan.
Perkembangan Perbankan Syariah
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia di merasa sejak tahun 1983, bersamaan bersama dengan ada deregulasi perbankan, di mana pemerintah Indonesia merencanakan untuk menerapkan “sistem bagi hasil” didalam perkreditan yang merupakan rancangan dari perbankan syariah.

Kemudian di tahun 1980, keluar sejumlah inisiatif pendirian bank Islam Indonesia lewat diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam.

Di tahun 1988, udah lebih banyak bermunculan bank konvensional dan lebih dari satu diantaranya untuk usaha perbankan yang berupa tempat berasaskan syariah.

Perkembangan termasuk keluar makin lama masif di tahun 1990 bersama dengan ditandainya Majelis Ulama Indonesia yang membentuk grup kerja (Tim Perbankan MUI) untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia.

Sebagai hasil kerja grup kerja selanjutnya adalah berdirinya Bank Syariah Pertama di Indonesia, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia yang resmi berdiri pada November 1991.
Hal itu perihal bersama dengan landasan hukum operasi perbankan yang Mengenakan proses syariah, yang mengacu pada UU berikut: bank bersama dengan proses bagi hasil pada UU No. 7 Tahun 1992, tanpa rincian landasan hukum syariah dan jenis-jenis usaha yang diperbolehkan.

Kemudian UU selanjutnya ditambah pada tahun 1998 menjadi: UU No. 10 Tahun 1998, terkandung dua proses didalam perbankan di tanah air (dual banking system) yaitu proses perbankan konvensional dan proses perbankan syariah.

Hasilnya pun UU selanjutnya meraih sambutan positif dari sejumlah perbankan lewat berdirinya lebih dari satu Bank Islam, layaknya Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, Bank BTN, Bank Mega, Bank BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar, BPD Aceh, dan lainnya.

Perbankan Syariah: Definisi, Akad, dan Prospek Ke Depan
Sebagai negara muslim terbesar, proses syariah kian marak keluar didalam perbankan. Lantas bagaimana prospek perbankan Syariah ke depannya?

Kesimpulan
Apa Itu Perbankan Syariah?
Secara sederhana, Perbankan Syariah termasuk dikenal sebagai perbankan Islam. Di mana didalam pelaksanaannya perbankan syariah mempunyai landasan hukum sesuai syariat Islam.

Salah satunya adalah perbankan syariah tidak mengenal ada “bunga pinjaman” atau interest rate, gara-gara bunga pinjaman di nilai riba/haram dan dapat berdosa.

Sehingga didalam operasionalnya perbankan syariah menerapkan “sistem bagi hasil” atau Nisbah, di mana prosesnya sama-sama diketahui dan disetujui oleh pihak bank maupun pihak nasabah pada pas akad (perjanjian) ditandatangani.

Sistem bagi hasil yang dikerjakan bank syariah adalah bersama dengan cara profit sharing, yaitu membagi keuntungan bersih dari usaha atau investasi yang udah dijalankan.

Adapun akad yang diterapkan oleh bank syariah terdiri dari tiga macam yakni:

Pertama, Akad Mudharabah
Kedua, Akad Musyarakah
Ketiga, Akad Murabahah

Nah lebih kurang kecuali diklasifikasikan perbedaan pada bank syariah dan bank konvensional, adalah sebagai berikut:

Bank Syariah Bank Konvensional
Hanya melakukan investasi yang halal menurut hukum Islam Melakukan investasi didalam bentuk apa saja
Prinsip Bagi Hasil, jual-beli, ataupun sewa Prinsip Suku Bunga
Berorientasi pada keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam) Berorientasi pada bunga
Hubungan bersama dengan Nasabah, adalah bentuk “Kemitraan” Hubungan bersama dengan Nasabah, adalah bentuk “kreditur-debitur”
Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah Penghimpunan dan penyaluran dana tidak diatur oleh dewan sejenis

Perkembangan Perbankan Syariah
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia di merasa sejak tahun 1983, bersamaan bersama dengan ada deregulasi perbankan, di mana pemerintah Indonesia merencanakan untuk menerapkan “sistem bagi hasil” didalam perkreditan yang merupakan rancangan dari perbankan syariah.

Kemudian di tahun 1980, keluar sejumlah inisiatif pendirian bank Islam Indonesia lewat diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam.

Di tahun 1988, udah lebih banyak bermunculan bank konvensional dan lebih dari satu diantaranya untuk usaha perbankan yang berupa tempat berasaskan syariah.

Perkembangan termasuk keluar makin lama masif di tahun 1990 bersama dengan ditandainya Majelis Ulama Indonesia yang membentuk grup kerja (Tim Perbankan MUI) untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia.

Sebagai hasil kerja grup kerja selanjutnya adalah berdirinya Bank Syariah Pertama di Indonesia, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia yang resmi berdiri pada November 1991.

Hal itu perihal bersama dengan landasan hukum operasi perbankan yang Mengenakan proses syariah, yang mengacu pada UU berikut: bank bersama dengan proses bagi hasil pada UU No. 7 Tahun 1992, tanpa rincian landasan hukum syariah dan jenis-jenis usaha yang diperbolehkan.

Kemudian UU selanjutnya ditambah pada tahun 1998 menjadi: UU No. 10 Tahun 1998, terkandung dua proses didalam perbankan di tanah air (dual banking system) yaitu proses perbankan konvensional dan proses perbankan syariah.

Hasilnya pun UU selanjutnya meraih sambutan positif dari sejumlah perbankan lewat berdirinya lebih dari satu Bank Islam, layaknya Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, Bank BTN, Bank Mega, Bank BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar, BPD Aceh, dan lainnya.

Sejak itu, muncullah sejumlah pengesahan produk perundangan yang menambahkan kepastian hukum dan menunjang kegiatan pasar keuangan syariah.

Di antaranya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (sukuk), dan UU No. 42 Tahun 2009 tentang Amandemen Ketiga UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa.

Tidak cuma itu, perbankan syariah sendiri sejak tahun 2013 untuk faedah pengaturan dan pengawasan perbankan syariah udah bergeser dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan. Kondisi itu tentu sebabkan pengawasan dan pengaturan perbankan syariah termasuk berubah ke OJK.

Dalam perkembangannya itu, ada perihal yang menarik perhatian Penulis. Di atas tadi udah Penulis sebutkan bahwa Bank Muamalat adalah bank syariah pertama di Indonesia, dan ternyata bank yang berasaskan syariah ini justru mampu lewat era krisis ekonomi yang berjalan di tahun 1998.

Tentu kebalnya bank syariah pada krisis sebabkan banyak orang heran, mengapa bank syariah mampu bertahan dari krisis tetapi di pas yang bersamaan justru banyak bank konvensional yang mengalami kejatuhan.
Hingga pas ini perkembangan Perbankan Syariah udah memadai banyak, dan di antaranya tidak kalah saing bersama dengan bank konvensional yang mendominasi pasar. Nah di bawah ini ada sejumlah perbankan syariah yang udah beroperasional aktif di Indonesia:

Perbankan Syariah Masuk ke Pasar Modal
Pada pembahasan di atas Penulis udah menguraikan daftar perbankan syariah yang udah aktif beroperasi berdasarkan knowledge dari OJK. Sayangnya, perbandingan pada kuantitas perbankan syariah bersama dengan yang udah melantai ke BEI terlampau minim.

Perbankan Syariah: Definisi, Akad, dan Prospek Ke Depan
Sebagai negara muslim terbesar, proses syariah kian marak keluar didalam perbankan. Lantas bagaimana prospek perbankan Syariah ke depannya?

Kesimpulan
Apa Itu Perbankan Syariah?
Secara sederhana, Perbankan Syariah termasuk dikenal sebagai perbankan Islam. Di mana didalam pelaksanaannya perbankan syariah mempunyai landasan hukum sesuai syariat Islam.

Salah satunya adalah perbankan syariah tidak mengenal ada “bunga pinjaman” atau interest rate, gara-gara bunga pinjaman di nilai riba/haram dan dapat berdosa.

Sehingga didalam operasionalnya perbankan syariah menerapkan “sistem bagi hasil” atau Nisbah, di mana prosesnya sama-sama diketahui dan disetujui oleh pihak bank maupun pihak nasabah pada pas akad (perjanjian) ditandatangani.

Sistem bagi hasil yang dikerjakan bank syariah adalah bersama dengan cara profit sharing, yaitu membagi keuntungan bersih dari usaha atau investasi yang udah dijalankan.

Adapun akad yang diterapkan oleh bank syariah terdiri dari tiga macam yakni:

Pertama, Akad Mudharabah
Kedua, Akad Musyarakah
Ketiga, Akad Murabahah

Nah lebih kurang kecuali diklasifikasikan perbedaan pada bank syariah dan bank konvensional, adalah sebagai berikut:

Bank Syariah Bank Konvensional
Hanya melakukan investasi yang halal menurut hukum Islam Melakukan investasi didalam bentuk apa saja
Prinsip Bagi Hasil, jual-beli, ataupun sewa Prinsip Suku Bunga
Berorientasi pada keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam) Berorientasi pada bunga
Hubungan bersama dengan Nasabah, adalah bentuk “Kemitraan” Hubungan bersama dengan Nasabah, adalah bentuk “kreditur-debitur”
Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah Penghimpunan dan penyaluran dana tidak diatur oleh dewan sejenis

Perkembangan Perbankan Syariah
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia di merasa sejak tahun 1983, bersamaan bersama dengan ada deregulasi perbankan, di mana pemerintah Indonesia merencanakan untuk menerapkan “sistem bagi hasil” didalam perkreditan yang merupakan rancangan dari perbankan syariah.

Kemudian di tahun 1980, keluar sejumlah inisiatif pendirian bank Islam Indonesia lewat diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam.

Di tahun 1988, udah lebih banyak bermunculan bank konvensional dan lebih dari satu diantaranya untuk usaha perbankan yang berupa tempat berasaskan syariah.

Perkembangan termasuk keluar makin lama masif di tahun 1990 bersama dengan ditandainya Majelis Ulama Indonesia yang membentuk grup kerja (Tim Perbankan MUI) untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia.

Sebagai hasil kerja grup kerja selanjutnya adalah berdirinya Bank Syariah Pertama di Indonesia, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia yang resmi berdiri pada November 1991.

Hal itu perihal bersama dengan landasan hukum operasi perbankan yang Mengenakan proses syariah, yang mengacu pada UU berikut: bank bersama dengan proses bagi hasil pada UU No. 7 Tahun 1992, tanpa rincian landasan hukum syariah dan jenis-jenis usaha yang diperbolehkan.

Kemudian UU selanjutnya ditambah pada tahun 1998 menjadi: UU No. 10 Tahun 1998, terkandung dua proses didalam perbankan di tanah air (dual banking system) yaitu proses perbankan konvensional dan proses perbankan syariah.

Hasilnya pun UU selanjutnya meraih sambutan positif dari sejumlah perbankan lewat berdirinya lebih dari satu Bank Islam, layaknya Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, Bank BTN, Bank Mega, Bank BRI, Bank Bukopin, BPD Jabar, BPD Aceh, dan lainnya.

Sejak itu, muncullah sejumlah pengesahan produk perundangan yang menambahkan kepastian hukum dan menunjang kegiatan pasar keuangan syariah.

Di antaranya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (sukuk), dan UU No. 42 Tahun 2009 tentang Amandemen Ketiga UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa.

Tidak cuma itu, perbankan syariah sendiri sejak tahun 2013 untuk faedah pengaturan dan pengawasan perbankan syariah udah bergeser dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan. Kondisi itu tentu sebabkan pengawasan dan pengaturan perbankan syariah termasuk berubah ke OJK.

Dalam perkembangannya itu, ada perihal yang menarik perhatian Penulis. Di atas tadi udah Penulis sebutkan bahwa Bank Muamalat adalah bank syariah pertama di Indonesia, dan ternyata bank yang berasaskan syariah ini justru mampu lewat era krisis ekonomi yang berjalan di tahun 1998.

Tentu kebalnya bank syariah pada krisis sebabkan banyak orang heran, mengapa bank syariah mampu bertahan dari krisis tetapi di pas yang bersamaan justru banyak bank konvensional yang mengalami kejatuhan.

Sejak pas itulah, merasa bermunculan Bank Syariah lainnya, layaknya Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah ke-2 di Indonesia.

Bank Syariah Mandiri sendiri merupakan gabungan dari lebih dari satu bank yang dimiliki oleh BUMN yang kebetulan terkena efek krisis pas itu.

Hingga kini selanjutnya ke-2 bank syariah selanjutnya memadai sukses dan mampu memantik timbulnya bank syariah lainnya di Indonesia.

Hingga pas ini perkembangan Perbankan Syariah udah memadai banyak, dan di antaranya tidak kalah saing bersama dengan bank konvensional yang mendominasi pasar. Nah di bawah ini ada sejumlah perbankan syariah yang udah beroperasional aktif di Indonesia:

Perbankan Syariah Masuk ke Pasar Modal
Pada pembahasan di atas Penulis udah menguraikan daftar perbankan syariah yang udah aktif beroperasi berdasarkan knowledge dari OJK. Sayangnya, perbandingan pada kuantitas perbankan syariah bersama dengan yang udah melantai ke BEI terlampau minim.

Tercatat hingga pas ini, BEI mencatat baru ada tiga bank syariah yang udah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BPTS), dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS).

Bila diurutkan maka PNBS atau PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk merupakan perbankan syariah yang pertama kali mencatatkan sahamnya di BEI pada 15 Januari 2014. Dengan harga perdana Rp100 per saham dan melepaskan lebih kurang 4,75 juta saham atau setara 8,05%.

Menyusul sesudah itu BTPS atau PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk termasuk melantai di BEI pada 8 Mei 2018. Dalam penawaran lazim perdana saham nya, BTPS melepaskan sebanyak 770 juta lembar saham seharga Rp975 per saham.

Diikuti oleh BRIS atau PT Bank BRIsyariah Tbk yang termasuk resmi tercatat sebagai emiten di BEI pada 9 Mei 2019.

Pada pas pencatatan saham, BRIS melepaskan lebih kurang 2.62 miliar lembar saham atau sebesar 27% dari modal diletakkan dan disetor penuh sehabis penawaran lazim perdananya bersama dengan harga sebesar Rp510 per lembar.

 

Pasar Modal Syariah dan Indeks Syariah

Gimana udah ada deskripsi tentang perbankan syariah?

Kali ini kami termasuk dapat membahas, kecuali ternyata penerapan “Syariah” ini tidak cuma diterapkan untuk di perbankan saja. Namun termasuk diterapkan untuk pasar modal Indonesia.

Nah lebih kurang apa sih pasar modal syariah itu?

Pasar modal syariah merupakan semua kegiatan di pasar modal yang tidak bertentangan bersama dengan prinsip-prinsip Islam, dan menjadi anggota dari industri keuangan syariah yang udah di atur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Lahirnya pasar modal syariah ditandai bersama dengan terbitnya reksa dana syariah pertama di tahun 1997.

Kemudian disusul terbitnya Jakarta Islamic Index (JII) sebagai indeks saham syariah pertama yang terdiri dari 30 saham syariah paling likuid di Indonesia di tahun 2000, bersama dengan sukuk pertama di Indonesia bersama dengan memakai akad mudharabah.

Adapun peraturan dari OJK tentang pasar modal syariah pertama dikeluarkan di tahun 2006, setelah itu diterbitkan Daftar Efek Syariah (DES) di tahun 2007 sebagai petunjuk pelaku pasar memilih saham yang mencukupi komitmen syariah. Di tahun 2008, pemerintah menerbitkan UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
Dengan begitu, kami mengetahui bahwa perbankan syariah ini mempunyai prospektif yang memadai positif. Sayangnya biarpun dapat terbuka peluang ke depannya, hingga pas ini baru tercatat ada tiga perbankan syariah yang baru mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Padahal untuk kegiatan di pasar modal pun pas ini udah ada indeks saham syariah, supaya semua kegiatan dapat mencukupi syariat Islam dan terintegrasi bersama dengan beraneka perihal yang halal.