konsumsi BBM ramah lingkungan, Kementerian ESDM paparkan perbaikan regulasi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan telah berusaha perbaikan regulasi demi mendorong pemanfaatan Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Adhi Wibowo menyatakan pengaturan spesifikasi BBM merujuk PP No.36 Tahun 2004 berkenaan Kegiatan Usaha Hilir Migas memperhatikan 4 aspek yaitu pertumbuhan teknologi, kebolehan produsen, kebolehan dan kebutuhan konsumen, serta K3LL.

Adhi menilai, pemanfaatan BBM ramah lingkungan berdampak besar mengurangi emisi gas tempat tinggal kaca serta menunjang kesehatan.

Adapun, Terkait BBM Fill Rite Flow Meter ramah lingkungan, telah diterbitkan Peraturan Menteri LHK No. P.20 Tahun 2017, di mana sesuai Permen LHK tersebut, kendaraan bermotor yang sedang diproduksi harus memenuhi baku mutu emisi gas membuang paling lambat pada bulan Oktober 2018 untuk kendaraan berbahan bakar bensin, bersama spesifikasi BBM yang dipersyaratkan yaitu nilai RON minimal 91 dan takaran sulfur maksimal 50 ppm. Selanjutnya, pada bulan April 2021 untuk kendaraan berbahan bakar solar. Spesifikasi BBM yang dipersyaratkan yaitu nilai Cetane Number minimal 51 dan takaran sulfur maksimal 50 ppm.

 

“Sebagai wujud komitmen Kementerian ESDM fungsi menunjang implementasi BBM ramah lingkungan, telah ditetapkan SK Dirjen Migas No. 177K Tahun 2018 tanggal 6 Juni 2018 berkenaan Standar dan Mutu BBM type Bensin RON 98 yang dipasarkan di Dalam Negeri. Bensin RON 98 ini telah memenuhi kriteria sesuai Permen LHK No. P.20 Tahun 2017 yaitu RON 98 dan takaran sulfur maksimal 50 ppm, sanggup dikatakan spesifikasi ini setara bersama EURO IV,” ujar Adhi dalam ialog publik bersama tema: Tingkatkan Kualitas Udara Sehat di Masa Transisi New Normal Dengan Implementasi BBM Ramah Lingkungan.

 

Adhi melanjutkan, untuk BBM type minyak solar, telah diterbitkan SK Dirjen Migas No. 0234.K Tahun 2019 di mana untuk takaran sulfur solar CN 51 telah sesuai bersama keputusan Permen LHK No. 20 Tahun 2017.
Disisi lain, Adhi menegaskan cara lainnya dalam mendorong optimalisasi mengkonsumsi BBM ramah lingkungan yaitu lewat peningkatan kapasitas kilang dan pembangunan kilang baru.

 

“Harapan kita kapasitas pengolahan kilang yang saat ini lebih kurang 1 juta barel per hari, nantinya pada tahun 2027 bakal meningkat jadi 2 juta barel per hari bersama memproses BBM setara Euro IV,” kata Adhi.

Selain itu, dijalankan termasuk pembangunan green refinery di Kilang Plaju dan kilang Dumai bersama masing-masing kapasitas 20.000 bopd, pencampuran BBM fosil bersama Bahan Bakar Nabati (BBN) yang berasal dari sumber terbarukan, serta belajar dan penelitian yang masih tetap berjalan pada Pemerintah, badan usaha dan para ahli berkenaan bagaimana kilang Indonesia sanggup mempoduksi BBM yang berkualitas lebih baik.

 

Sementara itu, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi bilang mengkonsumsi BBM ramah lingkungan erat kaitannya bersama Program Langit Biru yang digagas sejak 20 tahun silam. “Salah satu upaya program tersebut adalah mengurangi emisi gas buang. Emisi gas membuang berkontribusi 70% pada mutu udara,” mengetahui Tulus.

Tulus melanjutkan, penduduk harus diingatkan lagi untuk mewujudkan mutu udara bersama Program Langit Biru, terlebih mutu BBM yang digunakan. Pasalnya, Indonesia dinilai merupakan tidak benar satu negara yang tertinggal dalam pemanfaatan BBM berstandar Euro.