Gas Emisi dari Pembakaran Boiler Minyak Sawit

Industri pengolahan kelapa sawit adalah tidak benar satu industri kunci di Indonesia. Data Analisis Minyak Kelapa Sawit, bahwa mengolah Indonesia udah raih 34.520.000 ton.

Satu ton buah segar, tandan, dan serat kasar kurang lebih 90 kg, 144 kg masing-masing (Hambali dan Komarudin, 2010) dan ini dibakar untuk menghasilkan energi untuk pabrik kelapa sawit. Mekanisme pembakaran melalui ketel dapat raih pembangkitan listrik yang optimal. Setiap pabrik umumnya punya dua boiler dengan alat ukur Flow Meter Tokico 2 Inch yang beroperasi dan siaga untuk tingkatkan kapasitas peningkatan kuantitas mengolah pada jaman depan.

Serat dan cangkang limbah kelapa sawit sebagai biomassa energi ini biasa digunakan sebagai bahan bakar boiler. Namun, sistem pembakaran biomassa melepaskan gas yang tidak terkontrol dan emisi partikulat, yang berkontribusi secara substansial pada kasus lingkungan.

Gas selama pembakaran yang beresiko adalah SO2 dan NO2. Sulfur Dioksida juga berasal dari SOx yang berasal berasal dari keberadaan spesies anorganik. Tambahan, Nitrogen Dioksida sebagai bentuk kategori utama berasal dari NOx, NO, dan N2O, udah didorong oleh pembakaran pengaturan dan bahan bakar nitrogen (Yin et al., 2008). Belerang Dioksida dapat menyebabkan korosi suhu rendah dan Nitrogen dioksida punya pengaruh yang kurang baik pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Penelitian ini dilakukan bersama dengan memperbandingkan dua pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat. Analisis untuk emisi gas dikontrol dan disesuaikan bersama dengan ketetapan Indonesia seperti kadar Sulphur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Opacity, dan Partikel Emisi ditentukan untuk pengukuran data. Kehadiran Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Opacity dan Emisi Partikulat adalah hal penting untuk dipelajari.

Hasil berasal dari studi ini membuktikan bahwa ke-2 pabrik kelapa sawit mematuhi regulasi ketetapan Indonesia. Hasil SO2 kurang berasal dari 2,61 dan 38,23 mg / Nm3 untuk Pabrik Pertama dan Pabrik kedua. Kandungan NO2 kurang berasal dari 1,88 dan 364,0 mg / Nm3 masing-masing.

Opacity dan partikulat emisi menggambarkan hasil yang baik dan masih mematuhi ketetapan tersebut. Beberapa makalah mengkompilasi bersama dengan information pengukuran untuk memberi tambahan distribusi information yang lebih sadar berasal dari Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Opacity, dan Emisi Partikulat.

Peraturan Lingkungan Indonesia Menteri No. 7, 2007 (PERMEN LH no 7 / MENLH / 2007) memberitahukan batas kualitas emisi boiler yang dapat digunakan pada serat atau cangkang biomassa.

Makalah ini menyajikan sebuah investigasi gas emisi dan partikulat emisi berasal dari boiler pabrik kelapa sawit yang punya kapasitas 30.000 kg/jam dan uap 35.000 kg/jam. Selain itu, penelitian ini juga memperbandingkan bersama dengan lebih dari satu makalah bersama dengan batas ketetapan Indonesia. Dua pabrik kelapa sawit berlokasi di Kalimantan Barat dipilih untuk penelitian.

Kalimantan Barat adalah provinsi bersama dengan peringkat yang ke-5 tertinggi menurut information statistik Perkebunan Pohon kelapa sawit Indonesia pada th. 2015-2017. Pada th. 2017, keseluruhan daerah untuk perkebunan kelapa sawit adalah 1.497.841 ha bersama dengan 2.658.702 ton kelapa sawit mengolah minyak.

Di pabrik yang berbeda, kapasitas boiler 30.000 kg / jam dan 35.000 kg / jam udah dipilih untuk memeriksa emisi gas. Titik pengambilan sampel mengikuti ketetapan Indonesia bersama dengan wilayah dua kali diameter cerobong mengacu ke Indonesia Peraturan (Bapedal, 205/1996).

Berdasar information pembanding berasal dari dua pabrik yang berbeda, maka dapat diajukan lebih dari satu perbaikan. Beberapa perbaikan dapat dilakukan untuk tingkatkan kualitas emisi gas buang dan partikulat, pada lain, sebagai berikut:

melakukan perbaikan pertolongan dan atau menambahkan hawa karena NO2, NOx, dan NO emisi benar-benar terbujuk oleh pementasan udara; mengontrol biomassa hawa berlebih pada pemantik world bahan bakar yang punya kelembaban lebih tinggi;

Menyesuaikan waktu tinggal bahan bakar pada parut, karena hal ini dapat menjadi kompleks karena antarmuka bersama dengan distribusi, ukuran pada tungku dan bahan bakar menyebar; Mengoptimalkan suhu lapisan padat di luar hawa primer yang dipanaskan barangkali diperlukan;

Kontrol suhu pembakaran; dan tambahan bersama dengan pemeriksaan kelembaban bahan bakar. Usaha ini diharapkan dapat tambah tingkatkan kualitas gas emisi pada pembakaran biomassa tandan kelapa sawit.