Pengusaha dan Peternak Mengadu ke DPRD Akibat Harga Daging Ayam Lokal Turun

Sejumlah peternak ayam dengan entrepreneur DOC dan pakan ayam broiler mengeluhkan anjloknya harga jual ayam potong sejak awal th. 2021 di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Keluhan turunnya harga beli daging ayam lokal disampaikan didalam pertemuan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dipimpin Ketua Komisi II DPRD Nunukan, Welson dengan sejumlah anggota Komisi II lainnya.

Ketua Komisi II DPRD Nunukan Wilson menyebutkan, pangsa pasar ayam lokal jadi sempit, hal ini gara-gara masuknya daging ayam asal Berau di Kecamatan Sebuku dan Sembakung, tetapi di pulau Sebatik daging ayam asal Malaysia.

“Penernak mengeluh ayam mereka kelewatan usia dan itu tidak laku dipasar, kalaupun dijual paling Rp 20.000/kilo, keadaan ini paham merugikan,” katanya.

Direktur CV. Tunontaka Mitra Sejahtera (TMS) Nunuan, Darma Kohar mengatakan, masuknya suplai daging ayam berasal dari Malaysia di pulau Sebatik ataupun berasal dari area luar berpengaruh terhadap perdagangan ayam potong milik peternak lokal.

“Karena stok daging ayam melimpah, harga beli ditingkat entrepreneur ke mitra peternak lokal turun,” kata Wilson.

Sebagian peternak lokal mendapatkan bibit dan pakan berasal dari CV TMS, kerjasama ini cukup menguntungkan, gara-gara peternak cukup buat persiapan kandang, tetapi DOC atau bibit ayam dan pakan disiapkan pengusaha.

Tidak cuman buat persiapan DOC dan pakan, entrepreneur secara teratur membeli hasil ternak dengan harga ideal kurang lebih Rp25.000, tapi didalam satu bulan terakhir, harga beli turun pada Rp 20.000/kilo hingga Rp 23.000/kilo.

“Mau tidak sudi peternak menjual ayam mereka, jadi lama dipelihara jadi banyak pakan dan harga tidak juga naik-naik,” ucapnya.

Untuk memaksimalkan lagi harga, Darma meminta Pemerintah Nunukan dan DPRD Nunukan, menopang penghentian masukkan ayam luar negeri dan ayam area luar di wilayah Kebupaten Nunukan.

Selain imbas masuknya ayam luar, Darma menyaksikan tingkat beli masyarakat dimasa pendemi Covid-19 turun cukup tinggi, meski harga ayam di pasar-pasar tradisional selamanya stabil diharga Rp 40.000/kilo.

“Harga turun hanya ditingkat entrepreneur dan peternak, jikalau pasar – pasar selamanya stabil tidak terpengaruh,” jelasnya.

Sementara itu, Kepada Dinas Perdagangan Nunukan, H. Dian Kusumanto membetulkan adanya keluhan peternak ayam broiler yang terkait dengan penurunan harga beli ditingkat entrepreneur dan masuknya ayam luar daerah.

“Diakui atau tidak, daging ayam berasal dari Malaysia dan area laur cukup tidak mahal dibandingkan ayam peternak lokal,” tuturnya.

Terlepas berasal dari kasus masuknya ayam luar daerah, penurunan harga berjalan nyaris disetiap awal tahun, kasus ini gara-gara para peternak buat persiapan bibit ayam cukup tinggi sebagai persiapan th. baru dan natal.

Peluang menjanjikan memperbanyak bibit ayam ini ternayata tidak berjalan cocok rencana, pembelian daging ayam berkurang seiring keadaan keadaan ekonomi masyarakat sehubungan pengaruh Covid-19.

“Coba menyaksikan dipasar-pasar, keperluan ayam berkurang tidak layaknya th. pada mulanya dan kami udah memprediksi keadaan ini,” kata Dian Kusumanto.

Karena itu, ia meminta entrepreneur dan peternak lokal mampu mengontrol keperluan DOC, gara-gara tidak hanya di Nunukan, nyaris seluruh area mengalami akumulasi penurunan pembelian daging ayam.

“Peternak ini serba salah, tidak dijual beban pakan, dijual harga murah, makanya mesti inivasi produk turunan untuk menanggulangi turunya harga jual,” pungkasnya.